Gue Bukan Tukang Sateee..!!!
Pada suatu hari, tepatnya hari
minggu di pagi hari. Gue dikejutkan dengan suara perutku yang kelaparan.
Ternyata eh ternyata perut guw meminta makanan.
“kamu
udah lapar ya..??”
kata gue. “Bruuutt (bunyi perut)”
jawab perut gue dengan
pelan. “Mungkin udah waktunya (Makan) “ Jawab gue.
Gue pun berjalan disuatu pasar, gue
melihat banyak makanan yang nikmat dan maknyos bin Cucok rumpi. Apalagi dengan
perut gue yang lagi kelaparan, mungkin apa aja gue makan. Tetapi, alangkah terkejutnya
gue saat memeriksa dompet. Ternyata eh ternya tidak ada sepeserpun uang di
dalamnya. Gue pun terdiam sejenak, memikirkan bagaimana caranya makan dengan
tanpa uang sedikitpun.
“Astagaaaa…
mana duitnya nihh!!! Gak ada sama sekali, cuman ada recehan. Gimana mau makan
nih? (sambil terkejut melihat dompet)
Kata
dompet: “ …” (Diam tanpa kata, ya iyalah namanya juga benda mati)
Gue terkesima saat ada tanpa ada
pemiliknya (seperti melihat bidadari dari langit, tapi sayangnya ini gerobak) ,
setanpun mulai menghasut gue utk melakukan perbuatan yang tidak baik. Gue
perlahan menghampiri gerobak sate tersebut, sambil melihat sate dan lontong
yang lagi nganggur.
Gue pun terhasut dengan godaan setan
tersebut, gue langsung mengambil sate dan bergegas memakannya sebelum pemilik
sate ini datang. Gue pun makan dengan tergesa-gesa dan juga was-was. Gue
punterkejut ada yang memanggil
‘mantapp..’
kata gue. “Selamat pagi pak” seseorang memanggil.
‘ahhh,,
hmm.. ya , selamat pagi’ (spontan kaget) .
“Pak,
bukannya kami kemarin sudah memberitahukan. Bahwa tidak boleh berjualan disini
lagi!!!” (dengan
tegas). Kata seseorang yang belum gue kenal
‘Tidak
pak’ jawab gue.
“Tidak
apaaa!!!” (Marah). Kata orang itu
‘Denger
dulu’ jawab gue lagi. “Apaaa..!!!” jawabnya.
‘Ehh,
si bapak. Marah-marah aja, dengerin dulu kata saya. Saya cuman makan disini,
bukan pemilik
gerobak sate ini! “ jelas gue dengan tegas.
“alaahh,,
jangan bohong kamu ya! Alasan itu sudah basi! Daritadi saya sudah memperhatikan
kamu daritadi” jawab seseorang itu.
‘Saya
gak bohong pak!” gue membantah
“Sudahlah
, saya satpol PP. Sekarang ikut saya, Lamu dan gerobakmu akan saya tahan” jawab
seseorang itu
Ternyata seseorang itu adalah Satpol
PP yang sedang melakukan penertiban di Pasar. Gue padahal udah menjelaskan kalo
, gue ini bukan Tukang Sate. Tetapi bapak-bapak itu masih aja gak percaya.
‘Gak
mau, saya kan cuman makan aja. Masa kena tahan’. Jawab gue memberontak
“Cepat
ikut saya” (sambil menyeret)
‘Gak
mau, gak mau. Saya BUKAN TUKANGG SATEE!!!” (sambil melawan)
Terjadilah tarik menarik anatara gue
dan bapak Satpol-PP, gue reflek dan langsung mendorong pak Satpol-PP tersebut.
Melihat mobil Satpol-PP di depan gue yang mau menghampiri, gue terkejut dan
lantas berlari sambil membawa gerobak sate yang lagi ngangur itu.
Yang gue heran disini , gue reflek
membawa gerobak itu, gue merenung sambil heran? Apakah mungkin ada jiwa tukang
sate di dalam diri gue. Huftt,,, cebel. Tapi Untung aja gue selamat dari
kejaran satpol-PP dan mendapatkan gerobak sate lengkap dengan isinya. Dalam
hati gue berbicara” Bisa makan selama tiga hari secara gratis nih, wkwk” , Tapi
gue merasa kasihan sama pemilik gerobak yang gue ambil. Tapi gue abaikan saja.
Keesokannya, ada orang yang mengetuk
pintu rumah gue. Pas gue buka, ternyata yang datang adalah seseorang yang lagi
membawa sebuah golok. Gue spontan takut dan langsung menutup pintu, tapi orang
itu menahan pintu rumah gue. Sehingga gue gak bisa lari kedalam rumah.
‘Ampunnn
pakk, saya ini orang miskin. Gak ada apa apa di rumah saya, pleaseee… Jangan
bunuh sayaa’ Gue ketakutan setengah mati.
“
…” . Dia hanya diam, dengan mata melotot.
‘ampun
pakkk’
“kamu
ya, yang maling Gerobak sate saya!” jawab orang itu.
‘Haah,
apa’ jawab gue kaget
“Kamu
ya, yang maling gerobak saya!”
‘enggak
pak, apagunanya saya mencuri gerobak’ jawab gue dengan berbohong. Dalam hati
gue berbicara( Kampret, gimana bisa tau nih tukang sate. Kalo gue yang maling
gerobaknya)
“jangan
bohong kamu ya” orang itu pun mulai marah.
‘enggak
kok pak’. Gue pun mulai gelisah
“Asal
kamu tau ya, saya udah masang GPS di gerobak saya. Jadi kalo gerobak hilang,
saya bisa dengan mudah menemukannya”
‘
…’ Hening. Gue heran secanggih inikah tukang sate sekarang. Kata gue dalam hati
( Gilaa, tukang sate aja
pake GPS. Supaya dia mudah mencari gerobaknya kalo
hilang. Jangan-jangan Hapenya Android tuh.
“Sekarang
biar saya periksa rumah kamu”kata orang itu. langsung memasuki rumah gue, dan
pemilik gerobak itu pun menemukannya dihalaman belakang rumah gue.
“nah,
ini dia gerobak saya. Kamu berani-beraninya membohongi saya, saya bacok kamu
baru tau rasa.” Kata pemilik gerobak itu, sambil mengarahkan goloknya kearah
gue.
‘anu,
pakk. Hmm,, saya minta maaf’ kata gue menyesal
“Gak
bisa itu, kamu harus bisa nganti kerugian saya. Atau gak saya bawa kamu ke kantor
polisi” kata bapak itu lagi
‘tapi
pak, saya gak ada uang. Saya belum dapat uang belanja dari ortu saya’. Jelas
gue dengan mungka sesedih-sedihnya, siapa tau orang itu kasihan.
“Ooo,
tidak bisa. Pokoknya kamu harus ganti”
‘
… ’ (pasang mungka Sedih)
“hmm,,
gimana kalo kamu. Bantuin saya jualan, trus saya kasih gaji. Dan gaji itu kamu
bayar untuk membayar ganti rugi yang saya alami”
Dalam hati gue ngomong kayak begini ‘ Siall,, jadi
tukang sate?? Malu-maluin aja, itu bakalan mengurangi reputasi gue sebagai
cowok Keren disekolah*PRETT* ‘ Tapi karna gue harus mengganti kerugian yang
dialami oleh bapak tersebut, gue tepaksa mengIYAkan kata bapak itu.
Dan akhirnya gue pun menjadi seorang tukang sate
beneran, walaupun itu cuman untuk beberapa hari aja.
~~~

PESAN MORAL: jadilah pencuri gerobak yang propesional, jangan sampai anda bertemu dengan Satpol-PP. Bisa jadi anda akan di tahan karena disangka Jualan.
Sebelum membawa lari gerobak tersebut, periksalah apakah di gerobak itu ada GPS atau kamera CCTV. Karena hal itu akan menyusahkan anda dikemudian hari. KEJAHATAN BUKAN TERJADI KARENA ADA NIAT PELAKU, TETAPI KARENA ADA KESEMPATAN. MAKA OLEH KARENA ITU WAS-WASLAH WAS-WASLAH.